Minggu, 25 Oktober 2009

SUMPAH MAHASISWA – 18 OKTOBER 2009


Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme (ketiadaan aturan dari sang Pencipta (Al-Khaliq)) yang mengatur kehidupan kita dan bangsa ini, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.
Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :
1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Selasa, 20 Oktober 2009

Kongres (Jalanan) Mahasiswa Islam Indonesia 18 Oktober '09




Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Khilafah, Khilafah, akan tegak kembali…
Khilafah, Khilafah janji Allah yang pasti…
Itulah salah satu yel-yel yang dinyanyikan lebih dari 5000 mahasiswa-mahasiswi Islam dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Bali, Madura dan Jawa dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10) di depan Basket Hall, Senayan, Jakarta.
Dengan penuh semangat, dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, mereka berulang kali melompat-lompat menerikan yel tersebut di sela-sela orasi para cendikiawan Muslim diantaranya adalah Fahmi Amhar, Dwi Condro Triono dan Fahmi Luqman di samping orasi dari para perwakilan mahasiswa.
Meskipun tidak turut melompat-lompat, sekitar seribu mahasiswi yang berdiri di sebelah kanan yang terpisah secara tegas dengan barisan mahasiswa, tidak kalah semangatnya, sambil mengangkat tangan terkepal, seirama menerikan yel tersebut.
Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler. Sehingga bukan hanya di masjid, barisan laki-laki dan perempuan terpisah. Di lapangan terbuka pun hukum Islam terkait dengan interaksi pria-wanita tetap diamalkan. Sehingga campur baur yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa sekuler, tidak akan ditemukan dalam kelompok mahasiswa yang menjunjung tinggi syariah Islam.
Tonggak Perubahan
Kongres yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut ialah sebagai koreksi atas pergerakan mahasiswa yang selama ini ada. Kongres menilai pergerakan mahasiswa yang ada selama ini lebih bersifat pragmatis dan demi kepentingan sesaat.
Fenomena itu bisa dilihat dari berbagai angkatan termasuk mahasiswa angkatan ’98 maupun ’66. Demi kepentingan perut semata mereka berebut kursi kekuasaan mengorbankan idealisme mereka sendiri ketika masih mahasiswa.
Bahkan lebih jauh dari itu, seperti yang dinyatakan Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK kepada Media Umat di sela-sela kongres, KMII ini merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 lalu.
KMII ini merupakan momentum dan tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda kelak. “Kita bisa mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda 1928, sumpah tersebut dapat membawa arus perubahan dalam pergerakan pemuda untuk lepas dari penjajahan yang ada saat itu,” ujar mahasiswa pasca sarjana UI tersebut.
Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga sadar dan bangkit bersama-sama mengusir penjajah. Namun sayangnya, mereka hanya berhasil mengusir penjajahan militer. Sedangkan penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini.
Itu bukan karena perjuangan mereka yang melanggar sumpah. Tetapi konteks sumpahnya itulah yang bermasalah sehingga mereka hanya berkutat pada perjuangan melawan penjajahan militer.
“Sehingga kalau kita lihat konteks Indonesia kekinian memang penjajahan secara fisik itu tidak ada, tetapi secara ekonomi, politik, budaya, kita dijajah. Mengapa penjajahan non fisik ini tetap ada? Karena memang intelektual kitalah yang dijajah,” ujarnya.
Oleh karenanya, Erwin menandaskan pemuda sekarang haruslah sadar dan bangkit secara intelektual. Terkait dengan itu, mahasiswa Islamlah yang sudah seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi motor penggerak untuk menyatukan dan membangun visi intelektual menuju Indonesia yang lebih baik.
Terbebas dari penghambaan terhadap manusia sehingga hanya perintah dan larangan dari Allah SWT saja yang layak diikuti karena memang hanya Allah SWT yang layak disembah seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi pergerakan mahasiswa Islam ke depan bukanlah perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya.
Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam ideologis. Berjuang dengan misi pembebasan umat manusia. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah SWT, Tuhan semesta raya.
Sumpah Mahasiswa
Semua duduk, hening, khusyu’ saat dibacakan ayat-ayat suci Alquran bahkan menangis ketika dibacakan do’a. Namun sorak sorai kembali membahana ketika mereka meneriakkan, “Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!”
Mendekati puncak acara, yakni pembacaan Sumpah Mahasiswa, matahari semakin terik membakar, mendidihkan jiwa muda mereka yang semakin muak dengan sistem kufur yang selama ini diterapkan di Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
Maka selain takbir dan yel Khilafah janji Allah yang pasti, dengan penuh semangat mereka pun meneriakan, “Demokrasi… hancurkan…! Kapitalisme… hancurkan…!”, “Sosialisme… hancurkan…! Komunisme… hancurkan…!”,
Mereka pun sangat rindu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah menggantikan sistem buatan manusia yang selama terbukti secara telak sangat menyengsarakan manusia di dunia ini. Apalagi di akhirat nanti seperti yang telah Allah SWT tegaskan dalam Alquran.
Maka dengan tubuh yang bermandikan peluh dengan lantang mereka meneriakan, “Syariah… tegakkan…!, Khilafah…Tegakkan…!”. Allahu Akbar… kemudian teriakan “khilafah, khilafah, khilafah…!” bergemuruh.
Tibalah acara puncak, semua peserta mengankat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk seraya bersumpah dengan sepenuh jiwa. Membaca serentak lima butir sumpah.
Mereka akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah di Indonesia dan negeri Muslim lainnya secara intelektual dan tanpa kekerasan.
Mereka pun bersumpah dengan sepenuh jiwa bahwa perjuangan itu dilakukan bukan karena sebatas tuntutan sejarah. Namun lebih dari itu. Perjuangan yang mulia tersebut merupakan konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Senin, 19 Oktober 2009

LDK AL MUSTANIR

assalamualaikum...... sodaraQ fillah
'ilan: berdasarkan pertimbangan dan berbagai saran, maka ldk amdisi sekarang ganti nama menjadi ldk al mustanir artinya cemerlang. Harapannya, semoga mahasiswa2 yang bergabung di dalamnya menjadi mahasiswa yang mampu berfikir cemerlang, cerdas alias bukan mahasiswa pembebek bin pragmatis. Apalagi yang di klaim sebagai mahasiswa Islam, maka dia dituntut untuk memiliki pemikiran yang mustaniir dengan berlandaskan aqidah islam faqoth. ok!!!!
katanye mahasiswa adalah agen perubah, tunjukkaaan!!!!!
so, sebagai mahasiswa Islam yang telah melihat, merasakan problematika kehidupan yang sangat rumit akibat pnerapan sistem taghut buatan manusia yaitu sosialisme-komunisme dan kapitalisme-sekularisme, harus mampu menjadi garda terdepan untuk merubahnya menuju sistem Islam secara totalitas yaitu satu2nya sistem buatan Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta yaitu Allah SWT.

Selasa, 09 Juni 2009

Sejarah Feminisme


   Ketika berbicara tentang "feminisme" senantiasa mengundang pro-kontra, tak urung keberadaannya berimbas pada kehidupan kaum Muslim di Dunia Islam.Sejalan dengan berkembangnya waktu, berkembang pula bentuk2 perjuangan feminisme. Demikian juga polemik yang menanggapinya terus bergulir. Apalagi dominasi sistem kehidupan sekuler yang melahirkan ide2 turunan semisal liberalisme & egalitarisme yang mengukung kehidupan mereka
Feminisme sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19. Namun tidak terhimpun dalam satu wadah perjuangan. Salah satu yang paling menonjol adalah Gerakan pembebasan wanita atau Women's Liberation (Women's Lib). Gerakan ini berpusat di Amerika Serikat, dan menunjukkan aksi2nya pada abad ke-20. Orientasinya bersifat sosial-politis. Guna memperoleh persamaan hak, maka dilakukan perjuangan di parlemen sampai turun ke jalan lewat boikot dan demontrasi.
   Pada awal abad ke 20,gerakan feminis di amerika difokuskan pada satu isu yaitu mendapatkan hak untuk memilih. Pada saat itu wanita disamakan dengan anak dibawah umur,yang tidak boleh mengikuti pemilu.
   Pada tahun 1948,sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York, untuk menuntut hak2 mereka dan sebagai reaksi atas pelarangan terhadap wanita untuk berbicara didepan umum.Setelah hak untuk memilih dipenuhi, gerakan feminisme agak tenggelam hingga tahun 1950 an. Saat itu kedu2kan wanita yang ideal sebagai ibu rumah tangga tidak pernah di gugat, walaupun sudah banyak wanita yang aktif bekerja di luar rumah.
   Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang lagi di amerika serikat. Tujuannya adalah untuk menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik merupakan hal yang tidak produktif. Dan mereka adalah golongan yang tertindas.
  Para tokoh feminis memberikan dorongan kepada wanita untuk membebaskan diri dari kewajiban rumah tangga yang dianggap beban. Oleh sebab itu gerakan feminisme tersebut berkembang menjadi perjuangan untuk membebaskan wanita dan rumah tangga dan membenci laki2. laki2 dianggap figur penindas dan takut disaingi wanita.
     Landasan Feminisme
Ditinjau dari segi ideologinya, konsep penindasan wanita berasal dari teori konfliknya Karl Marx dan Frederich Engels. Dalam bukunya The Origin of Family, private, property, and the state (1884). Dalam teori tersebut pria diibaratkan sebagai kaum borjuis dan wanita sebagai kaum proletar. Teori tersebut menjadi landasan gerakan2 feminisme yang ada didunia, baik feminisme liberal, feminisme Marxis atau sosialis dan feminisme radikal. Dalam perkembangannya tidak hanya ketiga versi feminisme ini yang menjadi wadah gerakan kaum feminis. Namun yang tampak mewakili gerakan feminisme yang mendunia adalah seperti yang telah diuraikan diatas.
   
  by : Kholifah 085755132661





WASPADAI RACUN DI BALIK MANISNYA IDE FEMINISME

   Berbagai program pelatihan dan pembelajaran terhadap perempuan digulirkan oleh aktivis feminis. Dengan jargonnya, mereka sengaja memanas-manasi kaum perempuan bahwa perempuan termarjinalkan, tertindas, tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, pendidikan dll. Sekilas, tindakan kaum feminis ini tampak mulia dan terkesan sangat perhatian kepada perempuan. Padahal apabila dicermati, dibalik manisnya ide feminis tersembunyi racun yang sangat mematikan.
Berbagai upaya mereka lakukan, yang masih hangat diingatan kita adalah maraknya isu poligami dan pernikahan dini. Pasca kegagalan mereka mengusung CLD-KHI, mereka manfaatkan momen ini untuk menggulirkan amandemen UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang poligami dan pernikahan usia dini. Berbagai argumen mereka lontarkan untuk menghapuskan poligami dari ranah kehalalan. Antara lain, poligami merupakan bentuk subordinasi dan diskriminasi terhadap perempuan, menempatkan perempuan sebagai sex provider, dll. Sedangkan pernikahan dini ditentang dengan terus menaikkan usia mempelai yakni kedua mempelai harus di atas 18 tahun. Apabila ditelaah, hal ini mempunyai maksud untuk memperpendek usia reproduksi perempuan. Ditambah kampanye mereka tentang 4T (tidak terlalu dini, tidak terlalu banyak, tidak terlalu dekat, dan tidak terlalu tua), semakin jelas bahwa tujuan mereka adalah untuk menekan proses regenerasi. Hal ini selaras dengan kehendak Barat yang takut jumlah umat Islam meningkat karena akan menjadi ancaman bagi eksistensi ideology kapitalis-sekulernya. Sebaliknya, mereka mendorong penduduknya untuk memiliki anak banyak agar terhindar dari loss generation.
   Masih banyak pasal-pasal lainnya yang mereka gugat untuk mereduksi ajaran Islam. Selain itu UU ini sangat berpeluang menggiring masyarakat menuju seks bebas, perceraian, dan lemahnya kelahiran generasi-generasi berkualitas.
   Di sampaing UU Perkawinan, aktivis feminis juga menjadikan UU lain sebagai senjatanya. Antara lain, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang menjadi inspirasi banyak perempuan untuk melawan suami dan menuntut cerai, UU Perlindungan Anak (PA) yang berpeluang meliberalkan anak sejak dini, dan UU Kewarganegaraan yang semakin melegalkan pernikahan beda agama. Selain melalui UU ini, masih banyak program-program yang dikemas dengan tampak bagus oleh kalangan feminis. 
   Waspadalah!!! tanpa disadari, saudara kita seIslam dijadikan kepanjangan tangan mereka. Jangan termakan dengan propaganda Islam moderat-Islam radikal karena hal ini sama halnya dengan ide-ide feminisme yang menjadi alat ampuh bagi pengemban ideologi kapitalis-sekuler untuk menhancurkan keluarga dan masyarakat muslim.

By. Maf’ula/MD/VIII/085655200860/mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id