Dari klinik, aku langsung menuju fakultas dakwah A. Sambil nunggu jam kuliah masuk, aku baca koran jawa pos yang di pasang di mading, belum semua terbaca tiba-tiba penyakitku kambuh lagi. Begitu juga waktu aku menuju fak. Dakwah B dan melihat koran surya halaman muka. Hal yang sama, ketika aku mendengar berita BBC, mendengar pembicaraan masyarakat, melihat TVOne, rasanya pengen pingsan. Akhirnya aku tersadar, ternyata
PESTA DEMOKRASI TELAH TIBA
Atmosfer kampanye kian panas, televisi, radio, media cetak makin banyak menayangkan iklan politik, berbagai janji diumbar. Ada lagi yang membuatku tercengang waktu baca tabloit kesayanganku (Media Umat edisi 8), berikut cuplikannya:.....”Demokrasi memang mahal,” kata Rizal Mallarangeng. Hanya mereka yang memiliki modal cukup yang bisa berperan. Sementara yang uangnya cekak harus minggir dari percaturan. Namanya saja pesta demokrasi. Pesta butuh uang. Apalagi untuk duduk di singgasana Senayan. Wajar bila seorang caleg DPR RI harus menyediakan dana minimal Rp 400 juta. Bisa dihitung barapa total pengeluaran caleg yang tercatat saat ini sebanyak 11.868 orang untuk DPR. Nilainya sekitar Rp 4,727 trilyun. Jangan kaget dulu, itu belum termasuk pengeluaran caleg dari 471 DPRD kabupaten/kota dan 33 DPRD provinsi. Yang jumlah calegnya mencapai puluhan ribu orang. Anda bisa memperkirakan sendiri besarnya. Ada yang memperkirakan jumlahnya bisa sampai 50 trilyun. Wow ...ini baru untuk caleg, belum untuk pemilihan presiden/wakil presiden berbeda lagi.....
Truss... dari mana dana sebesar itu??? Masihkah qita memimpikan kesejahteraan di bawah sistem demokrasi??? Temukan jawaban selengkapnya hanya....di Media Umat edisi 8.(ya... itung-itung sambil promosi, tapi suer beli MU ga’ bakal nyesel)
Anehnya, waktu baca media inilah penyakitku ga’ kambuh cz di sini ada obat penawarnya. Ternyata, aku terserang penyakit trauma jadi korban sistem demokrasi. He..he..he..
By: Maf’ula/ Manajemen Dakwah/ 085655200860/ mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar