Selasa, 09 Juni 2009

Sejarah Feminisme


   Ketika berbicara tentang "feminisme" senantiasa mengundang pro-kontra, tak urung keberadaannya berimbas pada kehidupan kaum Muslim di Dunia Islam.Sejalan dengan berkembangnya waktu, berkembang pula bentuk2 perjuangan feminisme. Demikian juga polemik yang menanggapinya terus bergulir. Apalagi dominasi sistem kehidupan sekuler yang melahirkan ide2 turunan semisal liberalisme & egalitarisme yang mengukung kehidupan mereka
Feminisme sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19. Namun tidak terhimpun dalam satu wadah perjuangan. Salah satu yang paling menonjol adalah Gerakan pembebasan wanita atau Women's Liberation (Women's Lib). Gerakan ini berpusat di Amerika Serikat, dan menunjukkan aksi2nya pada abad ke-20. Orientasinya bersifat sosial-politis. Guna memperoleh persamaan hak, maka dilakukan perjuangan di parlemen sampai turun ke jalan lewat boikot dan demontrasi.
   Pada awal abad ke 20,gerakan feminis di amerika difokuskan pada satu isu yaitu mendapatkan hak untuk memilih. Pada saat itu wanita disamakan dengan anak dibawah umur,yang tidak boleh mengikuti pemilu.
   Pada tahun 1948,sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York, untuk menuntut hak2 mereka dan sebagai reaksi atas pelarangan terhadap wanita untuk berbicara didepan umum.Setelah hak untuk memilih dipenuhi, gerakan feminisme agak tenggelam hingga tahun 1950 an. Saat itu kedu2kan wanita yang ideal sebagai ibu rumah tangga tidak pernah di gugat, walaupun sudah banyak wanita yang aktif bekerja di luar rumah.
   Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang lagi di amerika serikat. Tujuannya adalah untuk menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik merupakan hal yang tidak produktif. Dan mereka adalah golongan yang tertindas.
  Para tokoh feminis memberikan dorongan kepada wanita untuk membebaskan diri dari kewajiban rumah tangga yang dianggap beban. Oleh sebab itu gerakan feminisme tersebut berkembang menjadi perjuangan untuk membebaskan wanita dan rumah tangga dan membenci laki2. laki2 dianggap figur penindas dan takut disaingi wanita.
     Landasan Feminisme
Ditinjau dari segi ideologinya, konsep penindasan wanita berasal dari teori konfliknya Karl Marx dan Frederich Engels. Dalam bukunya The Origin of Family, private, property, and the state (1884). Dalam teori tersebut pria diibaratkan sebagai kaum borjuis dan wanita sebagai kaum proletar. Teori tersebut menjadi landasan gerakan2 feminisme yang ada didunia, baik feminisme liberal, feminisme Marxis atau sosialis dan feminisme radikal. Dalam perkembangannya tidak hanya ketiga versi feminisme ini yang menjadi wadah gerakan kaum feminis. Namun yang tampak mewakili gerakan feminisme yang mendunia adalah seperti yang telah diuraikan diatas.
   
  by : Kholifah 085755132661





WASPADAI RACUN DI BALIK MANISNYA IDE FEMINISME

   Berbagai program pelatihan dan pembelajaran terhadap perempuan digulirkan oleh aktivis feminis. Dengan jargonnya, mereka sengaja memanas-manasi kaum perempuan bahwa perempuan termarjinalkan, tertindas, tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, pendidikan dll. Sekilas, tindakan kaum feminis ini tampak mulia dan terkesan sangat perhatian kepada perempuan. Padahal apabila dicermati, dibalik manisnya ide feminis tersembunyi racun yang sangat mematikan.
Berbagai upaya mereka lakukan, yang masih hangat diingatan kita adalah maraknya isu poligami dan pernikahan dini. Pasca kegagalan mereka mengusung CLD-KHI, mereka manfaatkan momen ini untuk menggulirkan amandemen UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang poligami dan pernikahan usia dini. Berbagai argumen mereka lontarkan untuk menghapuskan poligami dari ranah kehalalan. Antara lain, poligami merupakan bentuk subordinasi dan diskriminasi terhadap perempuan, menempatkan perempuan sebagai sex provider, dll. Sedangkan pernikahan dini ditentang dengan terus menaikkan usia mempelai yakni kedua mempelai harus di atas 18 tahun. Apabila ditelaah, hal ini mempunyai maksud untuk memperpendek usia reproduksi perempuan. Ditambah kampanye mereka tentang 4T (tidak terlalu dini, tidak terlalu banyak, tidak terlalu dekat, dan tidak terlalu tua), semakin jelas bahwa tujuan mereka adalah untuk menekan proses regenerasi. Hal ini selaras dengan kehendak Barat yang takut jumlah umat Islam meningkat karena akan menjadi ancaman bagi eksistensi ideology kapitalis-sekulernya. Sebaliknya, mereka mendorong penduduknya untuk memiliki anak banyak agar terhindar dari loss generation.
   Masih banyak pasal-pasal lainnya yang mereka gugat untuk mereduksi ajaran Islam. Selain itu UU ini sangat berpeluang menggiring masyarakat menuju seks bebas, perceraian, dan lemahnya kelahiran generasi-generasi berkualitas.
   Di sampaing UU Perkawinan, aktivis feminis juga menjadikan UU lain sebagai senjatanya. Antara lain, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang menjadi inspirasi banyak perempuan untuk melawan suami dan menuntut cerai, UU Perlindungan Anak (PA) yang berpeluang meliberalkan anak sejak dini, dan UU Kewarganegaraan yang semakin melegalkan pernikahan beda agama. Selain melalui UU ini, masih banyak program-program yang dikemas dengan tampak bagus oleh kalangan feminis. 
   Waspadalah!!! tanpa disadari, saudara kita seIslam dijadikan kepanjangan tangan mereka. Jangan termakan dengan propaganda Islam moderat-Islam radikal karena hal ini sama halnya dengan ide-ide feminisme yang menjadi alat ampuh bagi pengemban ideologi kapitalis-sekuler untuk menhancurkan keluarga dan masyarakat muslim.

By. Maf’ula/MD/VIII/085655200860/mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id