Minggu, 25 Oktober 2009

SUMPAH MAHASISWA – 18 OKTOBER 2009


Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme (ketiadaan aturan dari sang Pencipta (Al-Khaliq)) yang mengatur kehidupan kita dan bangsa ini, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.
Oleh karena itu, setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :
1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Selasa, 20 Oktober 2009

Kongres (Jalanan) Mahasiswa Islam Indonesia 18 Oktober '09




Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Khilafah, Khilafah, akan tegak kembali…
Khilafah, Khilafah janji Allah yang pasti…
Itulah salah satu yel-yel yang dinyanyikan lebih dari 5000 mahasiswa-mahasiswi Islam dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Bali, Madura dan Jawa dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10) di depan Basket Hall, Senayan, Jakarta.
Dengan penuh semangat, dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, mereka berulang kali melompat-lompat menerikan yel tersebut di sela-sela orasi para cendikiawan Muslim diantaranya adalah Fahmi Amhar, Dwi Condro Triono dan Fahmi Luqman di samping orasi dari para perwakilan mahasiswa.
Meskipun tidak turut melompat-lompat, sekitar seribu mahasiswi yang berdiri di sebelah kanan yang terpisah secara tegas dengan barisan mahasiswa, tidak kalah semangatnya, sambil mengangkat tangan terkepal, seirama menerikan yel tersebut.
Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler. Sehingga bukan hanya di masjid, barisan laki-laki dan perempuan terpisah. Di lapangan terbuka pun hukum Islam terkait dengan interaksi pria-wanita tetap diamalkan. Sehingga campur baur yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa sekuler, tidak akan ditemukan dalam kelompok mahasiswa yang menjunjung tinggi syariah Islam.
Tonggak Perubahan
Kongres yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut ialah sebagai koreksi atas pergerakan mahasiswa yang selama ini ada. Kongres menilai pergerakan mahasiswa yang ada selama ini lebih bersifat pragmatis dan demi kepentingan sesaat.
Fenomena itu bisa dilihat dari berbagai angkatan termasuk mahasiswa angkatan ’98 maupun ’66. Demi kepentingan perut semata mereka berebut kursi kekuasaan mengorbankan idealisme mereka sendiri ketika masih mahasiswa.
Bahkan lebih jauh dari itu, seperti yang dinyatakan Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK kepada Media Umat di sela-sela kongres, KMII ini merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 lalu.
KMII ini merupakan momentum dan tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda kelak. “Kita bisa mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda 1928, sumpah tersebut dapat membawa arus perubahan dalam pergerakan pemuda untuk lepas dari penjajahan yang ada saat itu,” ujar mahasiswa pasca sarjana UI tersebut.
Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga sadar dan bangkit bersama-sama mengusir penjajah. Namun sayangnya, mereka hanya berhasil mengusir penjajahan militer. Sedangkan penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini.
Itu bukan karena perjuangan mereka yang melanggar sumpah. Tetapi konteks sumpahnya itulah yang bermasalah sehingga mereka hanya berkutat pada perjuangan melawan penjajahan militer.
“Sehingga kalau kita lihat konteks Indonesia kekinian memang penjajahan secara fisik itu tidak ada, tetapi secara ekonomi, politik, budaya, kita dijajah. Mengapa penjajahan non fisik ini tetap ada? Karena memang intelektual kitalah yang dijajah,” ujarnya.
Oleh karenanya, Erwin menandaskan pemuda sekarang haruslah sadar dan bangkit secara intelektual. Terkait dengan itu, mahasiswa Islamlah yang sudah seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi motor penggerak untuk menyatukan dan membangun visi intelektual menuju Indonesia yang lebih baik.
Terbebas dari penghambaan terhadap manusia sehingga hanya perintah dan larangan dari Allah SWT saja yang layak diikuti karena memang hanya Allah SWT yang layak disembah seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi pergerakan mahasiswa Islam ke depan bukanlah perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya.
Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam ideologis. Berjuang dengan misi pembebasan umat manusia. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah SWT, Tuhan semesta raya.
Sumpah Mahasiswa
Semua duduk, hening, khusyu’ saat dibacakan ayat-ayat suci Alquran bahkan menangis ketika dibacakan do’a. Namun sorak sorai kembali membahana ketika mereka meneriakkan, “Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!”
Mendekati puncak acara, yakni pembacaan Sumpah Mahasiswa, matahari semakin terik membakar, mendidihkan jiwa muda mereka yang semakin muak dengan sistem kufur yang selama ini diterapkan di Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
Maka selain takbir dan yel Khilafah janji Allah yang pasti, dengan penuh semangat mereka pun meneriakan, “Demokrasi… hancurkan…! Kapitalisme… hancurkan…!”, “Sosialisme… hancurkan…! Komunisme… hancurkan…!”,
Mereka pun sangat rindu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah menggantikan sistem buatan manusia yang selama terbukti secara telak sangat menyengsarakan manusia di dunia ini. Apalagi di akhirat nanti seperti yang telah Allah SWT tegaskan dalam Alquran.
Maka dengan tubuh yang bermandikan peluh dengan lantang mereka meneriakan, “Syariah… tegakkan…!, Khilafah…Tegakkan…!”. Allahu Akbar… kemudian teriakan “khilafah, khilafah, khilafah…!” bergemuruh.
Tibalah acara puncak, semua peserta mengankat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk seraya bersumpah dengan sepenuh jiwa. Membaca serentak lima butir sumpah.
Mereka akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah di Indonesia dan negeri Muslim lainnya secara intelektual dan tanpa kekerasan.
Mereka pun bersumpah dengan sepenuh jiwa bahwa perjuangan itu dilakukan bukan karena sebatas tuntutan sejarah. Namun lebih dari itu. Perjuangan yang mulia tersebut merupakan konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Senin, 19 Oktober 2009

LDK AL MUSTANIR

assalamualaikum...... sodaraQ fillah
'ilan: berdasarkan pertimbangan dan berbagai saran, maka ldk amdisi sekarang ganti nama menjadi ldk al mustanir artinya cemerlang. Harapannya, semoga mahasiswa2 yang bergabung di dalamnya menjadi mahasiswa yang mampu berfikir cemerlang, cerdas alias bukan mahasiswa pembebek bin pragmatis. Apalagi yang di klaim sebagai mahasiswa Islam, maka dia dituntut untuk memiliki pemikiran yang mustaniir dengan berlandaskan aqidah islam faqoth. ok!!!!
katanye mahasiswa adalah agen perubah, tunjukkaaan!!!!!
so, sebagai mahasiswa Islam yang telah melihat, merasakan problematika kehidupan yang sangat rumit akibat pnerapan sistem taghut buatan manusia yaitu sosialisme-komunisme dan kapitalisme-sekularisme, harus mampu menjadi garda terdepan untuk merubahnya menuju sistem Islam secara totalitas yaitu satu2nya sistem buatan Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta yaitu Allah SWT.

Selasa, 09 Juni 2009

Sejarah Feminisme


   Ketika berbicara tentang "feminisme" senantiasa mengundang pro-kontra, tak urung keberadaannya berimbas pada kehidupan kaum Muslim di Dunia Islam.Sejalan dengan berkembangnya waktu, berkembang pula bentuk2 perjuangan feminisme. Demikian juga polemik yang menanggapinya terus bergulir. Apalagi dominasi sistem kehidupan sekuler yang melahirkan ide2 turunan semisal liberalisme & egalitarisme yang mengukung kehidupan mereka
Feminisme sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19. Namun tidak terhimpun dalam satu wadah perjuangan. Salah satu yang paling menonjol adalah Gerakan pembebasan wanita atau Women's Liberation (Women's Lib). Gerakan ini berpusat di Amerika Serikat, dan menunjukkan aksi2nya pada abad ke-20. Orientasinya bersifat sosial-politis. Guna memperoleh persamaan hak, maka dilakukan perjuangan di parlemen sampai turun ke jalan lewat boikot dan demontrasi.
   Pada awal abad ke 20,gerakan feminis di amerika difokuskan pada satu isu yaitu mendapatkan hak untuk memilih. Pada saat itu wanita disamakan dengan anak dibawah umur,yang tidak boleh mengikuti pemilu.
   Pada tahun 1948,sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York, untuk menuntut hak2 mereka dan sebagai reaksi atas pelarangan terhadap wanita untuk berbicara didepan umum.Setelah hak untuk memilih dipenuhi, gerakan feminisme agak tenggelam hingga tahun 1950 an. Saat itu kedu2kan wanita yang ideal sebagai ibu rumah tangga tidak pernah di gugat, walaupun sudah banyak wanita yang aktif bekerja di luar rumah.
   Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang lagi di amerika serikat. Tujuannya adalah untuk menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik merupakan hal yang tidak produktif. Dan mereka adalah golongan yang tertindas.
  Para tokoh feminis memberikan dorongan kepada wanita untuk membebaskan diri dari kewajiban rumah tangga yang dianggap beban. Oleh sebab itu gerakan feminisme tersebut berkembang menjadi perjuangan untuk membebaskan wanita dan rumah tangga dan membenci laki2. laki2 dianggap figur penindas dan takut disaingi wanita.
     Landasan Feminisme
Ditinjau dari segi ideologinya, konsep penindasan wanita berasal dari teori konfliknya Karl Marx dan Frederich Engels. Dalam bukunya The Origin of Family, private, property, and the state (1884). Dalam teori tersebut pria diibaratkan sebagai kaum borjuis dan wanita sebagai kaum proletar. Teori tersebut menjadi landasan gerakan2 feminisme yang ada didunia, baik feminisme liberal, feminisme Marxis atau sosialis dan feminisme radikal. Dalam perkembangannya tidak hanya ketiga versi feminisme ini yang menjadi wadah gerakan kaum feminis. Namun yang tampak mewakili gerakan feminisme yang mendunia adalah seperti yang telah diuraikan diatas.
   
  by : Kholifah 085755132661





WASPADAI RACUN DI BALIK MANISNYA IDE FEMINISME

   Berbagai program pelatihan dan pembelajaran terhadap perempuan digulirkan oleh aktivis feminis. Dengan jargonnya, mereka sengaja memanas-manasi kaum perempuan bahwa perempuan termarjinalkan, tertindas, tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, pendidikan dll. Sekilas, tindakan kaum feminis ini tampak mulia dan terkesan sangat perhatian kepada perempuan. Padahal apabila dicermati, dibalik manisnya ide feminis tersembunyi racun yang sangat mematikan.
Berbagai upaya mereka lakukan, yang masih hangat diingatan kita adalah maraknya isu poligami dan pernikahan dini. Pasca kegagalan mereka mengusung CLD-KHI, mereka manfaatkan momen ini untuk menggulirkan amandemen UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang poligami dan pernikahan usia dini. Berbagai argumen mereka lontarkan untuk menghapuskan poligami dari ranah kehalalan. Antara lain, poligami merupakan bentuk subordinasi dan diskriminasi terhadap perempuan, menempatkan perempuan sebagai sex provider, dll. Sedangkan pernikahan dini ditentang dengan terus menaikkan usia mempelai yakni kedua mempelai harus di atas 18 tahun. Apabila ditelaah, hal ini mempunyai maksud untuk memperpendek usia reproduksi perempuan. Ditambah kampanye mereka tentang 4T (tidak terlalu dini, tidak terlalu banyak, tidak terlalu dekat, dan tidak terlalu tua), semakin jelas bahwa tujuan mereka adalah untuk menekan proses regenerasi. Hal ini selaras dengan kehendak Barat yang takut jumlah umat Islam meningkat karena akan menjadi ancaman bagi eksistensi ideology kapitalis-sekulernya. Sebaliknya, mereka mendorong penduduknya untuk memiliki anak banyak agar terhindar dari loss generation.
   Masih banyak pasal-pasal lainnya yang mereka gugat untuk mereduksi ajaran Islam. Selain itu UU ini sangat berpeluang menggiring masyarakat menuju seks bebas, perceraian, dan lemahnya kelahiran generasi-generasi berkualitas.
   Di sampaing UU Perkawinan, aktivis feminis juga menjadikan UU lain sebagai senjatanya. Antara lain, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang menjadi inspirasi banyak perempuan untuk melawan suami dan menuntut cerai, UU Perlindungan Anak (PA) yang berpeluang meliberalkan anak sejak dini, dan UU Kewarganegaraan yang semakin melegalkan pernikahan beda agama. Selain melalui UU ini, masih banyak program-program yang dikemas dengan tampak bagus oleh kalangan feminis. 
   Waspadalah!!! tanpa disadari, saudara kita seIslam dijadikan kepanjangan tangan mereka. Jangan termakan dengan propaganda Islam moderat-Islam radikal karena hal ini sama halnya dengan ide-ide feminisme yang menjadi alat ampuh bagi pengemban ideologi kapitalis-sekuler untuk menhancurkan keluarga dan masyarakat muslim.

By. Maf’ula/MD/VIII/085655200860/mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id 



Rabu, 13 Mei 2009

sejarah lahirnya demokrasi

Seperti yang kita sering baca dalam pelajaran sejarah atau PPKN (dulu PMP), negara yang pertama kali melaksanakan Sistem Demokrasi adalah Athena. Ia tepatnya berupa negara-kota yang terletak di Yunani. Di Athena, pemerintahan dijalankan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Proses pemerintahan di Athena itu dimulai oleh Kleistenes pada tahun 507 sebelum Masehi dengan perubahan konstitusi dan diselesaikan oleh Efialtes pada tahun 462-461 sebelum Masehi. Efialtes melucuti kekuasaan kaum aristokrat kecuali beberapa fungsi hukum dalam yaitu, perkara pembunuhan, dan beberapa tugas keagamaan. Karena tindakan ini para bangsawan membunuh Efialtes, tetapi demokrasinya tetap hidup.Setelah kematian Efialtes, tidak ada badan politik yang lebih berkuasa daripada Dewan Rakyat. Dewan Rakyat di Athena terbuka bagi semua warga negara lelaki yang merdeka dan sudah dewasa, tidak peduli pendapatan atau tingkatannya. Pertemuan diadakan 40 kali setahun, biasanya di suatu tempat yang disebut Pniks,(suatu amfiteater alam pada salah satu bukit di sebelah barat Akropolis). 
Dalam teori, setiap anggota Dewan Rakyat dapat mengatakan apa saja, asalkan ia dapat menguasai pendengar. Tetapi demi alasan praktis, acara resmi juga ada. Acara ini disiapkan oleh sebuah Panitia yang terdiri dari 500 orang, 50 orang dari setiap suku bangsa Attika yang semuanya meliputi 10 suku. Mereka itu dipilih dengan undian dari daftar sukarelawan, yang semuanya warga negara berumur 30 tahun lebih. Panitia ini tidak mengekang Dewan Rakyat, tetapi hanya mempermudah segala langkahnya. Anggota Panitia selalu dibayar dan bertugas selama satu tahun. Sesudah selang waktu, ia dapat dipilih lagi untuk tahun kedua, tetapi tidak pernah bertugas selama lebih dari dua tahun. Dalam Panitia itu terdapat panitia yang lebih kecil dan terdiri dari 50 orang. Panitia ini disebut Pritanea dan berkumpul setiap hari; praktis merekalah yang menjalankan pemerintahan. Susunan Pritanea diubah 10 kali dalam setahun dan ketuanya, kedudukan eksekutif paling tinggi, berganti setiap hari. Dalam teori tidak ada orang yang cukup lama memegang tampuk kekuasaan sehingga merasa mengakar di dalamnya 
Tetapi dalam kenyataan kemungkinan ini terbuka bagi suatu golongan orang: 10 panglima angkatan bersenjata yang langsung dipilih dari Dewan Rakyat dan bertugas selama satu tahun. Seorang panglima dapat dipilih kembali berkali-kali. Salah seorang tokoh penting pada masa jaya Athena ialah Perikles, seorang prajurit, aristokrat, ahli pidato, dan warga kota pertama. Pada musim dingin tahun 431-430 sebelum Masehi, ketika perang Peloponnesus mulai, Perikles menyampaikan suatu pidato pemakaman. Alih-alih menghormati yang gugur saja, ia memilih memuliakan Athena: “Konstitusi kita disebut “DEMOKRASI”, karena kekuasaan tidak ada di tangan segolongan kecil melainkan di tangan seluruh rakyat. Dalam menyelesaikan masalah pribadi, semua orang setara di hadapan hukum; bila soalnya ialah memilih seseorang di atas orang lain untuk jabatan dengan tanggung jawab umum, yang diperhitungkan bukan keanggotaannya dalam salah satu golongan tertentu, tetapi kecakapan orang itu. Di sini setiap orang tidak hanya menaruh perhatian akan urusannya sendiri, melainkan juga urusan negara.Tetapi yang benar-benar dapat disebut berani ialah orang yang sudah mengerti apa yang enak di dalam hidup ini dan apa yang menggemparkan, lalu maju tanpa gentar untuk menghadapi apa yang datang.” 

Perbudakan & Diskriminasi Wanita 
Nyatanya, Athena bukanlah sebuah negara yang beradab. Slogan demokrasi yang sering menjulang dengan kata-kata liberte, fraternite, dan egalite, tidak pernah terwujud di Athena. Para ahli sejarah mencatat bahwa Athena adalah daerah pertama yang mempraktikkan perbudakan. Hal itu terjadi sekitar tahun 600 SM. Diperkirakan sekitar 100 ribu penduduk Athena adalah para budak. Itu berarti meliputi hampir sepertiga hingga setengah penduduk Athena adalah budak. Setiap penduduk Athena kecuali yang teramat miskin memiliki minimal satu budak. Pun, ketika proses pemerintahan demokrasi berlangsung, perbudakan itu masih terus berjalan. Bahkan filsuf terkenal Plato memiliki 50 budak. Ia juga memiliki ratusan budak yang disewakan pada orang lain. Ironis, padahal Plato adalah salah satu konseptor negara demokrasi. 
Perbudakan juga terus berlanjut meski seorang budak telah dimerdekakan. Caranya, seorang budak yang telah dimerdekakan tidak dapat disebut sebagai “orang merdeka” (free person), melainkan “orang yang dimerdekakan” (freed person) atau dalam istilah Yunani ia disebut sebagai metic. Seorang freed person memiliki hak yang lebih sedikit daripada orang merdeka. Mereka tidak dapat menduduki posisi di pemerintahan dan mereka juga harus membayar pajak spesial.Bagaimana dengan hak-hak politik di Yunani???? Para sejarawan menuliskan bahwa demokrasi Yunani tetap bertumpu pada aristokrasi (kaum ningrat/bangsawan), hanya penduduk dari kalangan atas saja yang diperbolehkan mengikuti pemilu. Maka, demokrasi yang dipraktikkan di Yunani tidak lebih dari sekedar rezim aristokrat. Nasib kaum wanita yang konon bakal lebih berharga dengan demokrasi, juga tak terbukti di Athena. Bila dibandingkan dengan kondisi sosial saat itu, kaum wanita Athena hanya satu tingkat lebih sedikit di atas para budak. Sejak mereka lahir mereka tidak diharapkan untuk belajar membaca dan menulis. Tentang belajar membaca dan menulis bagi wanita, filsuf Yunani Menander menulis, “Mengajarkan seorang wanita membaca dan menulis??? Mengerikan!!!! Itu sama saja seperti memberikan umpan seekor ular berbisa dengan racun yang lebih banyak.” Pengarang dan filsuf lain pun berpendapat sama tentang wanita. Kaum wanita di Athena terbagi menjadi tiga kelas. Yang paling rendah adalah para budak wanita, mereka melakukan berbagai pekerjaan kasar di sektor domestik (rumah), dan membantu istri majikan mereka mengasuh anak. Kelas kedua adalah para wanita penduduk biasa. Sedangkan kelas ketiga yang paling teratas adalah yang dikenal dengan sebutan Hetaerae. Tidak seperti kelompok pertama dan kedua, kaum Hetaerae mendapatkan pelajaran membaca, menulis, dan musik. Hanya saja, kalangan wanita Hetaerae ini sebenarnya tidak lebih dari kaum pelacur kelas atas 
Itulah demokrasi Athena, melestarikan perbudakan dan menghinakan kaum wantia. 
By: Hanin/PMI/ 085755132661

Jumat, 03 April 2009

demokrasi Islam???

Dalam kaca mata pejuang demokrasi, demokratisasi merupakan suatu keharusan dalam mengentas otoritarisme dan krisis yang melanda suatu negara. Bahkan ia dianggap sebagai langkah untuk menggapai kemajuan suatu bangsa. Setelah kita melihat fakta sekarang ini apakah benar demokrasi bisa meningkatkman kemajuan bangsa??? Jawabanya nothing!!!! Ok kalian bisa melihat fakta-fakta penerapan demokrasi??? renungkan sobbat!!!!!
Demokrasi tidak lepas dari pahamnya KEDAULATAN DI TANGAN RAKYAT DAN RAKYAT SEBAGAI SUMBER KEKUASAAN. Nah lho kalau sudah paham ini yang diagung-agungkan Mr.Demokrasi, sama nggak dengan Islam.

Perbedaan Islam (I) dengan (D) Demokrasi
Kedaulatan: (I) Islam memandang bahwa kedaulatan berada di tangan Tuhan, karena yang berhak membuat hukum hanyalah Allah. (D) Mr. demokrasi memandang bahwa rakyatlah yang berhak membuat hukum, hal ini adalah bathil.

Kekuasaan:(I) Dalam pandangan Islam kekuasaan di tangan umma, dalam artian umat yang mengangkat pemimpin, yang bertugas melaksanakan aturan dari Allah bukan aturan yang dibuat oleh manusia seperti dalam Demokrasi. (D) Rakyat sebagai sumber kekuasaan, penguasa terpilih bertugas u/ menjalankan peraturan yang dibuat oleh rakyat, bukan penguasa

Hak Asasi Manusia: (I) Islam memberikan kebebasan kepada umat asal tidak melanggar syari’at. (D) Dalam demokrasi kita tahu bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang paling diagungkan,dimana kebebasan menjadi raja meskipun bertentangan dengan hukum Allah.

Pengambilan Keputusan: (I) Dalam Islam musyawarah bukanlah segala-galanya dalam cara pengambilan keputusan, sebab ada hal-hal yang tidak dapat dikompromikan.(D) Dalam demokrasi sesuatu meskipun sudah ada hukum yang pasti tetap saja ada alasan untuk mengkompromikan. Kita ambil contoh yang sederhana pacaran dalam Islam!!! Yo sapa yang ngerasa nic. He…jangan marah, pi ni kenyataan lho!!!

Ok kita sebagai mahasiswa Islam, belajar Islam, di kampus Islam sudah seharusnya menjadikan Islam Way Of Life dalam setiap kehidupan dan bukan sistem yang lain. Kita tidak boleh sombong karena kita hanyalah makhluk ciptaanNya………..renungkanlah wahai Agent Of Change

By: asyfaul_ce_1924@yahoo.com/. Shyfa 03191856110/ Komunikasi

demokrasi sampai mati???


Don’t Say Demokrasi Sampai MatI

Assalamualaikum Sobat AMDISI,,,

PasTinya kangenkan ma edisi AMDISI yang semakin GREGETIN ja, BUT jangan salah qT Te2p peduli ma generasi Islam lho!!! Yuk qTa flashback ma opini qTa bulan ini yang paTinya Teman-Teman ingaT n Tambah sadar apa iTu ISLAM VS DEMOKRASI kan!!!

 Sejarah udah ngebukTikan klo pakD’mokrasi bukan dari Islam, so pasTi Tau donk??,,,
jelas-jelas berTenTangan dengan Islam!!! asal muasalnya ja dari mbak Yun he,he, maksudnye Yunani Gitu loh, Tapi banyak sTaTemenT yang dijadikan alasan kaTenye Demokrasi one SoluTion,Tapi anehnya mereka Tu orang Islam Sendiri,,, moga ja za mereka segera sadar bahwa Demokrasi hanya sunTikan penjajahan pada pemikiran QT yang membius QT.
 Klo lagi mikir, ngerasain n ngeliaT fakta yang ada karena ulah PakDe mokrasi, bikin QT mumeT, Demokrasi itu mahal lho!!! for example biaya poliTik ato kampanye-kampanye yang ada kayaknya ga’ da uang za..ga NYAHUT jeck n buanyak lagi contoh yang laen klo disebuT saTu per saTu ga bakalan muat GuesT. Yang ikuT kajian n ngikuTin opini2 qTa pasTi paham
 Truz qTa udah bisa ngebedain n ngebongkar abiz ideologi Demokrasi, Demokrasi dalam Islam GA ADA. Bagaimana Islam n Demokrasi memandang TenTang KEDAULATAn, KEKUASAAn, HAM, n Pengambilan KepuTusan. Beda…kan!!! Ya… iyalah beda,,, so qTa bisa mikir n berTindak. Hidup adalah pilihan. Trus Terang aje ye qTa lagi gencar Kampanye Syariah Islam nech,, mereka ja semangaT memperjuangkan sesuaTu yang bukan Dari Islam masak qTa kalah.
Okey saaTnya qTa ambil Tindakan Bahwa ISLAM is Problem Solving,,, mana sich yang ga di aTur Islam, dari yang Terkecil-simple sampe yang beraT n komplek, pengaTuran masalah public kaya bidang ekonomi,pendidikan, pergaulan, perTahanan n keamanan, poliTik luar n dalam negeri semuanya kompliT dalam ISLAM. Seharusnya qTa bangga bahwa jaTi diri qTa ISLAM akan TeTapi, karena kesombongan menjadikan sebagian besar kaum Muslim ga mau diaTur dengan Aturan Islam yang jelas-jelas dari SANG MAHA PENGATUR- aL MUDZABBIR yakni ALLAH Azzawajala.
So kasian bangeT dech kalo Temen2 qTA, saudara2 qTA, sahabaT qTA bahkan qTA sendiri jadi korban pakde mokrasi,BRING ISLAM BACK DECH.Yuk,,,! qTa bukTikan cinTa qTa n kasih sayang qTA dengan dakwah Islam…. Dari pada maTi karena pakDe mokrasi, selayaknya qTa maTi karena ALLAH, PASTINYA qTa diminTai pertanggung jawaban selama qTa hidup di dunia ini. qTa harus bangun,,, qTa harus lantang suarakan Islam, bahwa :
ISLAM IS THE BEST AND ISLAM sebagai PROBLEM SOLVING
Thank your attention, Wassalamualaikum



By: hanny_psi/ smt VI 085731163150

pesta demokrasi

Akhir- akhir ini dadaku sering terasa sesak, kepalaku pening, badanku menggigil. Aku khawatir ada gejala penyakit yang berbahaya, akhirnya aku putuskan untuk periksa ke klinik kampus. Eh…malah Bu dokter bilang aku sehat-sehat aja. So, aku keluar dari klinik dengan tangan hampa dan penuh tanya. Tapi aku ga’ boleh nyerah, aku akan berusaha untuk cari penyebab penyakitku ini sekaligus obatnya. Aku akan belajar jadi dokter untuk diriku sendiri sebelum aku jadi dokter untuk orang-orang di sekitarku. Yuk…bantu aku cari penyebab penyakitku.

Dari klinik, aku langsung menuju fakultas dakwah A. Sambil nunggu jam kuliah masuk, aku baca koran jawa pos yang di pasang di mading, belum semua terbaca tiba-tiba penyakitku kambuh lagi. Begitu juga waktu aku menuju fak. Dakwah B dan melihat koran surya halaman muka. Hal yang sama, ketika aku mendengar berita BBC, mendengar pembicaraan masyarakat, melihat TVOne, rasanya pengen pingsan. Akhirnya aku tersadar, ternyata

PESTA DEMOKRASI TELAH TIBA

Atmosfer kampanye kian panas, televisi, radio, media cetak makin banyak menayangkan iklan politik, berbagai janji diumbar. Ada lagi yang membuatku tercengang waktu baca tabloit kesayanganku (Media Umat edisi 8), berikut cuplikannya:

.....”Demokrasi memang mahal,” kata Rizal Mallarangeng. Hanya mereka yang memiliki modal cukup yang bisa berperan. Sementara yang uangnya cekak harus minggir dari percaturan. Namanya saja pesta demokrasi. Pesta butuh uang. Apalagi untuk duduk di singgasana Senayan. Wajar bila seorang caleg DPR RI harus menyediakan dana minimal Rp 400 juta. Bisa dihitung barapa total pengeluaran caleg yang tercatat saat ini sebanyak 11.868 orang untuk DPR. Nilainya sekitar Rp 4,727 trilyun. Jangan kaget dulu, itu belum termasuk pengeluaran caleg dari 471 DPRD kabupaten/kota dan 33 DPRD provinsi. Yang jumlah calegnya mencapai puluhan ribu orang. Anda bisa memperkirakan sendiri besarnya. Ada yang memperkirakan jumlahnya bisa sampai 50 trilyun. Wow ...ini baru untuk caleg, belum untuk pemilihan presiden/wakil presiden berbeda lagi.....

Truss... dari mana dana sebesar itu??? Masihkah qita memimpikan kesejahteraan di bawah sistem demokrasi??? Temukan jawaban selengkapnya hanya....di Media Umat edisi 8.(ya... itung-itung sambil promosi, tapi suer beli MU ga’ bakal nyesel)
Anehnya, waktu baca media inilah penyakitku ga’ kambuh cz di sini ada obat penawarnya. Ternyata, aku terserang penyakit trauma jadi korban sistem demokrasi. He..he..he..


By: Maf’ula/ Manajemen Dakwah/ 085655200860/ mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id

Sabtu, 07 Maret 2009

profil AMDISI

A. Dasar Pemikiran
AMDISI adalah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang berada di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. AMDISI merupakan salah satu lembaga yang di bentuk oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dari berbagai jurusan yang mempunyai keinginan yang sama yaitu menumbuhkembangkan jiwa-jiwa mahasiswa yang berorientasi pada dakwah Islam dan prestasi. Berbagai kegiatan AMDISI dimaksudkan untuk melakukan pembinaan dan penyadaran akan kewajiban dan pentingnya menjadikan Islam sebagai way of life. Dengan demikian, sudah selayaknya mahasiswa khususnya yang berada di Fakultas Dakwah, tercetak menjadi seorang pengemban dakwah Islam yang berkualitas dan mampu menentukan keadaan masyarakat di masa depan.
Sebagai lembaga yang baru berdiri, AMDISI sedang mengupayakan dapat bekerja sama dengan civitas akademika Fakultas Dakwah dalam mewujudkan tujuan tersebut. Selain itu, untuk mengoptimalkan gerak dakwah kampus, AMDISI juga bekerja sama dengan LDK-LDK lain yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Nasional. BKLDK ini merupakan salah satu bentuk koordinasi dakwah kampus yang berfungsi sebagai sarana bagi terciptanya gerak dakwah yang teratur, terpadu, dan kompak menuju terwujudnya kembali kehidupan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Mahasiswa merupakan aset terbesar sebagai agen perubah yang akan melanjutkan kepemimpinan suatu bangsa. Di sisi lain, dunia mahasiswa bukanlah dunia yang statis dengan berbagai arah dinamikanya. Di dalamnya mahasiswa akan senantiasa mencari warna untuk mendapatkan nama tersendiri dalam jenjang kehidupan berikutnya. Maka, tidak jarang kita mendapati perilaku dan cara berfikir mahasiswa yang beraneka ragam.
Namun, akan menjadi suatu keprihatinan yang mendalam tatkala aset terbesar ini salah dalam mencari dan mengambil warna. Apalagi sebagai mahasiswa muslim khususnya yang berada di Fakultas Dakwah, sudah seharusnya menjadi generasi Islam yang nantinya akan terjun di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan pembinaan dan dakwah. Maka, sungguh ironis apabila mahasiswa Islam enggan berbicara tentang Islam. Bahkan, perilaku dan cara berfikirnya bertentangan dengan Islam. Kondisi inilah yang saat ini mendominasi mahasiswa muslim. Mereka banyak tertipu oleh gemerlapnya dunia ini jika dibandingkan dengan yang sadar tentang keberadaan mereka di dunia.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka AMDISI akan berusaha dan berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai Islam serta menjadi wahana untuk menyebarluaskan ide-ide Islam sebagai aturan hidup dan meluruskan ide-ide yang menyesatkan khususnya di lingkungan Fakultas Dakwah.

B. Visi
Terbentuknya mahasiswa yang berkepribadian Islam yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami.

C. Misi
• Melakukan pembinaan secara intensif terhadap mahasiswa untuk membentuk kader intelektual berkepribadian Islam serta penguasaan tsaqofah dan mafahim Islam yang tinggi.
• Melaksanakan dakwah sesuai metode Rosulullah SAW.
• Mendorong peningkatan gerak dakwah dengan menyebarluaskan opini umum tentang Islam serta menjalin dan mempererat tali ukhuwah Islamiyah.
• Memperkuat pengaruh dengan memperluas jaringan dakwah melalui forum-forum lembaga dakwah kampus.

D. Tujuan
Membentuk kader pengemban dakwah bersyakhshiyah Islam yang tangguh dan mampu melakukan perubahan demi kemuliaan Islam.

E. Agenda Kegiatan
1. Kajian Intensif Keislaman
2. Diskusi Aktual
3. Sila Ukhuwah
4. Propaganda tempel opini
5. Seminar, Talk Show, Bincang Santai
6. Kerja sama dengan BKLDK
 
Kami tunggu peran aktif anda !!!
Call Center : Maf’ula 085655200860