Selasa, 09 Juni 2009

WASPADAI RACUN DI BALIK MANISNYA IDE FEMINISME

   Berbagai program pelatihan dan pembelajaran terhadap perempuan digulirkan oleh aktivis feminis. Dengan jargonnya, mereka sengaja memanas-manasi kaum perempuan bahwa perempuan termarjinalkan, tertindas, tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, pendidikan dll. Sekilas, tindakan kaum feminis ini tampak mulia dan terkesan sangat perhatian kepada perempuan. Padahal apabila dicermati, dibalik manisnya ide feminis tersembunyi racun yang sangat mematikan.
Berbagai upaya mereka lakukan, yang masih hangat diingatan kita adalah maraknya isu poligami dan pernikahan dini. Pasca kegagalan mereka mengusung CLD-KHI, mereka manfaatkan momen ini untuk menggulirkan amandemen UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang poligami dan pernikahan usia dini. Berbagai argumen mereka lontarkan untuk menghapuskan poligami dari ranah kehalalan. Antara lain, poligami merupakan bentuk subordinasi dan diskriminasi terhadap perempuan, menempatkan perempuan sebagai sex provider, dll. Sedangkan pernikahan dini ditentang dengan terus menaikkan usia mempelai yakni kedua mempelai harus di atas 18 tahun. Apabila ditelaah, hal ini mempunyai maksud untuk memperpendek usia reproduksi perempuan. Ditambah kampanye mereka tentang 4T (tidak terlalu dini, tidak terlalu banyak, tidak terlalu dekat, dan tidak terlalu tua), semakin jelas bahwa tujuan mereka adalah untuk menekan proses regenerasi. Hal ini selaras dengan kehendak Barat yang takut jumlah umat Islam meningkat karena akan menjadi ancaman bagi eksistensi ideology kapitalis-sekulernya. Sebaliknya, mereka mendorong penduduknya untuk memiliki anak banyak agar terhindar dari loss generation.
   Masih banyak pasal-pasal lainnya yang mereka gugat untuk mereduksi ajaran Islam. Selain itu UU ini sangat berpeluang menggiring masyarakat menuju seks bebas, perceraian, dan lemahnya kelahiran generasi-generasi berkualitas.
   Di sampaing UU Perkawinan, aktivis feminis juga menjadikan UU lain sebagai senjatanya. Antara lain, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang menjadi inspirasi banyak perempuan untuk melawan suami dan menuntut cerai, UU Perlindungan Anak (PA) yang berpeluang meliberalkan anak sejak dini, dan UU Kewarganegaraan yang semakin melegalkan pernikahan beda agama. Selain melalui UU ini, masih banyak program-program yang dikemas dengan tampak bagus oleh kalangan feminis. 
   Waspadalah!!! tanpa disadari, saudara kita seIslam dijadikan kepanjangan tangan mereka. Jangan termakan dengan propaganda Islam moderat-Islam radikal karena hal ini sama halnya dengan ide-ide feminisme yang menjadi alat ampuh bagi pengemban ideologi kapitalis-sekuler untuk menhancurkan keluarga dan masyarakat muslim.

By. Maf’ula/MD/VIII/085655200860/mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id 



Rabu, 13 Mei 2009

sejarah lahirnya demokrasi

Seperti yang kita sering baca dalam pelajaran sejarah atau PPKN (dulu PMP), negara yang pertama kali melaksanakan Sistem Demokrasi adalah Athena. Ia tepatnya berupa negara-kota yang terletak di Yunani. Di Athena, pemerintahan dijalankan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Proses pemerintahan di Athena itu dimulai oleh Kleistenes pada tahun 507 sebelum Masehi dengan perubahan konstitusi dan diselesaikan oleh Efialtes pada tahun 462-461 sebelum Masehi. Efialtes melucuti kekuasaan kaum aristokrat kecuali beberapa fungsi hukum dalam yaitu, perkara pembunuhan, dan beberapa tugas keagamaan. Karena tindakan ini para bangsawan membunuh Efialtes, tetapi demokrasinya tetap hidup.Setelah kematian Efialtes, tidak ada badan politik yang lebih berkuasa daripada Dewan Rakyat. Dewan Rakyat di Athena terbuka bagi semua warga negara lelaki yang merdeka dan sudah dewasa, tidak peduli pendapatan atau tingkatannya. Pertemuan diadakan 40 kali setahun, biasanya di suatu tempat yang disebut Pniks,(suatu amfiteater alam pada salah satu bukit di sebelah barat Akropolis). 
Dalam teori, setiap anggota Dewan Rakyat dapat mengatakan apa saja, asalkan ia dapat menguasai pendengar. Tetapi demi alasan praktis, acara resmi juga ada. Acara ini disiapkan oleh sebuah Panitia yang terdiri dari 500 orang, 50 orang dari setiap suku bangsa Attika yang semuanya meliputi 10 suku. Mereka itu dipilih dengan undian dari daftar sukarelawan, yang semuanya warga negara berumur 30 tahun lebih. Panitia ini tidak mengekang Dewan Rakyat, tetapi hanya mempermudah segala langkahnya. Anggota Panitia selalu dibayar dan bertugas selama satu tahun. Sesudah selang waktu, ia dapat dipilih lagi untuk tahun kedua, tetapi tidak pernah bertugas selama lebih dari dua tahun. Dalam Panitia itu terdapat panitia yang lebih kecil dan terdiri dari 50 orang. Panitia ini disebut Pritanea dan berkumpul setiap hari; praktis merekalah yang menjalankan pemerintahan. Susunan Pritanea diubah 10 kali dalam setahun dan ketuanya, kedudukan eksekutif paling tinggi, berganti setiap hari. Dalam teori tidak ada orang yang cukup lama memegang tampuk kekuasaan sehingga merasa mengakar di dalamnya 
Tetapi dalam kenyataan kemungkinan ini terbuka bagi suatu golongan orang: 10 panglima angkatan bersenjata yang langsung dipilih dari Dewan Rakyat dan bertugas selama satu tahun. Seorang panglima dapat dipilih kembali berkali-kali. Salah seorang tokoh penting pada masa jaya Athena ialah Perikles, seorang prajurit, aristokrat, ahli pidato, dan warga kota pertama. Pada musim dingin tahun 431-430 sebelum Masehi, ketika perang Peloponnesus mulai, Perikles menyampaikan suatu pidato pemakaman. Alih-alih menghormati yang gugur saja, ia memilih memuliakan Athena: “Konstitusi kita disebut “DEMOKRASI”, karena kekuasaan tidak ada di tangan segolongan kecil melainkan di tangan seluruh rakyat. Dalam menyelesaikan masalah pribadi, semua orang setara di hadapan hukum; bila soalnya ialah memilih seseorang di atas orang lain untuk jabatan dengan tanggung jawab umum, yang diperhitungkan bukan keanggotaannya dalam salah satu golongan tertentu, tetapi kecakapan orang itu. Di sini setiap orang tidak hanya menaruh perhatian akan urusannya sendiri, melainkan juga urusan negara.Tetapi yang benar-benar dapat disebut berani ialah orang yang sudah mengerti apa yang enak di dalam hidup ini dan apa yang menggemparkan, lalu maju tanpa gentar untuk menghadapi apa yang datang.” 

Perbudakan & Diskriminasi Wanita 
Nyatanya, Athena bukanlah sebuah negara yang beradab. Slogan demokrasi yang sering menjulang dengan kata-kata liberte, fraternite, dan egalite, tidak pernah terwujud di Athena. Para ahli sejarah mencatat bahwa Athena adalah daerah pertama yang mempraktikkan perbudakan. Hal itu terjadi sekitar tahun 600 SM. Diperkirakan sekitar 100 ribu penduduk Athena adalah para budak. Itu berarti meliputi hampir sepertiga hingga setengah penduduk Athena adalah budak. Setiap penduduk Athena kecuali yang teramat miskin memiliki minimal satu budak. Pun, ketika proses pemerintahan demokrasi berlangsung, perbudakan itu masih terus berjalan. Bahkan filsuf terkenal Plato memiliki 50 budak. Ia juga memiliki ratusan budak yang disewakan pada orang lain. Ironis, padahal Plato adalah salah satu konseptor negara demokrasi. 
Perbudakan juga terus berlanjut meski seorang budak telah dimerdekakan. Caranya, seorang budak yang telah dimerdekakan tidak dapat disebut sebagai “orang merdeka” (free person), melainkan “orang yang dimerdekakan” (freed person) atau dalam istilah Yunani ia disebut sebagai metic. Seorang freed person memiliki hak yang lebih sedikit daripada orang merdeka. Mereka tidak dapat menduduki posisi di pemerintahan dan mereka juga harus membayar pajak spesial.Bagaimana dengan hak-hak politik di Yunani???? Para sejarawan menuliskan bahwa demokrasi Yunani tetap bertumpu pada aristokrasi (kaum ningrat/bangsawan), hanya penduduk dari kalangan atas saja yang diperbolehkan mengikuti pemilu. Maka, demokrasi yang dipraktikkan di Yunani tidak lebih dari sekedar rezim aristokrat. Nasib kaum wanita yang konon bakal lebih berharga dengan demokrasi, juga tak terbukti di Athena. Bila dibandingkan dengan kondisi sosial saat itu, kaum wanita Athena hanya satu tingkat lebih sedikit di atas para budak. Sejak mereka lahir mereka tidak diharapkan untuk belajar membaca dan menulis. Tentang belajar membaca dan menulis bagi wanita, filsuf Yunani Menander menulis, “Mengajarkan seorang wanita membaca dan menulis??? Mengerikan!!!! Itu sama saja seperti memberikan umpan seekor ular berbisa dengan racun yang lebih banyak.” Pengarang dan filsuf lain pun berpendapat sama tentang wanita. Kaum wanita di Athena terbagi menjadi tiga kelas. Yang paling rendah adalah para budak wanita, mereka melakukan berbagai pekerjaan kasar di sektor domestik (rumah), dan membantu istri majikan mereka mengasuh anak. Kelas kedua adalah para wanita penduduk biasa. Sedangkan kelas ketiga yang paling teratas adalah yang dikenal dengan sebutan Hetaerae. Tidak seperti kelompok pertama dan kedua, kaum Hetaerae mendapatkan pelajaran membaca, menulis, dan musik. Hanya saja, kalangan wanita Hetaerae ini sebenarnya tidak lebih dari kaum pelacur kelas atas 
Itulah demokrasi Athena, melestarikan perbudakan dan menghinakan kaum wantia. 
By: Hanin/PMI/ 085755132661

Jumat, 03 April 2009

demokrasi Islam???

Dalam kaca mata pejuang demokrasi, demokratisasi merupakan suatu keharusan dalam mengentas otoritarisme dan krisis yang melanda suatu negara. Bahkan ia dianggap sebagai langkah untuk menggapai kemajuan suatu bangsa. Setelah kita melihat fakta sekarang ini apakah benar demokrasi bisa meningkatkman kemajuan bangsa??? Jawabanya nothing!!!! Ok kalian bisa melihat fakta-fakta penerapan demokrasi??? renungkan sobbat!!!!!
Demokrasi tidak lepas dari pahamnya KEDAULATAN DI TANGAN RAKYAT DAN RAKYAT SEBAGAI SUMBER KEKUASAAN. Nah lho kalau sudah paham ini yang diagung-agungkan Mr.Demokrasi, sama nggak dengan Islam.

Perbedaan Islam (I) dengan (D) Demokrasi
Kedaulatan: (I) Islam memandang bahwa kedaulatan berada di tangan Tuhan, karena yang berhak membuat hukum hanyalah Allah. (D) Mr. demokrasi memandang bahwa rakyatlah yang berhak membuat hukum, hal ini adalah bathil.

Kekuasaan:(I) Dalam pandangan Islam kekuasaan di tangan umma, dalam artian umat yang mengangkat pemimpin, yang bertugas melaksanakan aturan dari Allah bukan aturan yang dibuat oleh manusia seperti dalam Demokrasi. (D) Rakyat sebagai sumber kekuasaan, penguasa terpilih bertugas u/ menjalankan peraturan yang dibuat oleh rakyat, bukan penguasa

Hak Asasi Manusia: (I) Islam memberikan kebebasan kepada umat asal tidak melanggar syari’at. (D) Dalam demokrasi kita tahu bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang paling diagungkan,dimana kebebasan menjadi raja meskipun bertentangan dengan hukum Allah.

Pengambilan Keputusan: (I) Dalam Islam musyawarah bukanlah segala-galanya dalam cara pengambilan keputusan, sebab ada hal-hal yang tidak dapat dikompromikan.(D) Dalam demokrasi sesuatu meskipun sudah ada hukum yang pasti tetap saja ada alasan untuk mengkompromikan. Kita ambil contoh yang sederhana pacaran dalam Islam!!! Yo sapa yang ngerasa nic. He…jangan marah, pi ni kenyataan lho!!!

Ok kita sebagai mahasiswa Islam, belajar Islam, di kampus Islam sudah seharusnya menjadikan Islam Way Of Life dalam setiap kehidupan dan bukan sistem yang lain. Kita tidak boleh sombong karena kita hanyalah makhluk ciptaanNya………..renungkanlah wahai Agent Of Change

By: asyfaul_ce_1924@yahoo.com/. Shyfa 03191856110/ Komunikasi

demokrasi sampai mati???


Don’t Say Demokrasi Sampai MatI

Assalamualaikum Sobat AMDISI,,,

PasTinya kangenkan ma edisi AMDISI yang semakin GREGETIN ja, BUT jangan salah qT Te2p peduli ma generasi Islam lho!!! Yuk qTa flashback ma opini qTa bulan ini yang paTinya Teman-Teman ingaT n Tambah sadar apa iTu ISLAM VS DEMOKRASI kan!!!

 Sejarah udah ngebukTikan klo pakD’mokrasi bukan dari Islam, so pasTi Tau donk??,,,
jelas-jelas berTenTangan dengan Islam!!! asal muasalnya ja dari mbak Yun he,he, maksudnye Yunani Gitu loh, Tapi banyak sTaTemenT yang dijadikan alasan kaTenye Demokrasi one SoluTion,Tapi anehnya mereka Tu orang Islam Sendiri,,, moga ja za mereka segera sadar bahwa Demokrasi hanya sunTikan penjajahan pada pemikiran QT yang membius QT.
 Klo lagi mikir, ngerasain n ngeliaT fakta yang ada karena ulah PakDe mokrasi, bikin QT mumeT, Demokrasi itu mahal lho!!! for example biaya poliTik ato kampanye-kampanye yang ada kayaknya ga’ da uang za..ga NYAHUT jeck n buanyak lagi contoh yang laen klo disebuT saTu per saTu ga bakalan muat GuesT. Yang ikuT kajian n ngikuTin opini2 qTa pasTi paham
 Truz qTa udah bisa ngebedain n ngebongkar abiz ideologi Demokrasi, Demokrasi dalam Islam GA ADA. Bagaimana Islam n Demokrasi memandang TenTang KEDAULATAn, KEKUASAAn, HAM, n Pengambilan KepuTusan. Beda…kan!!! Ya… iyalah beda,,, so qTa bisa mikir n berTindak. Hidup adalah pilihan. Trus Terang aje ye qTa lagi gencar Kampanye Syariah Islam nech,, mereka ja semangaT memperjuangkan sesuaTu yang bukan Dari Islam masak qTa kalah.
Okey saaTnya qTa ambil Tindakan Bahwa ISLAM is Problem Solving,,, mana sich yang ga di aTur Islam, dari yang Terkecil-simple sampe yang beraT n komplek, pengaTuran masalah public kaya bidang ekonomi,pendidikan, pergaulan, perTahanan n keamanan, poliTik luar n dalam negeri semuanya kompliT dalam ISLAM. Seharusnya qTa bangga bahwa jaTi diri qTa ISLAM akan TeTapi, karena kesombongan menjadikan sebagian besar kaum Muslim ga mau diaTur dengan Aturan Islam yang jelas-jelas dari SANG MAHA PENGATUR- aL MUDZABBIR yakni ALLAH Azzawajala.
So kasian bangeT dech kalo Temen2 qTA, saudara2 qTA, sahabaT qTA bahkan qTA sendiri jadi korban pakde mokrasi,BRING ISLAM BACK DECH.Yuk,,,! qTa bukTikan cinTa qTa n kasih sayang qTA dengan dakwah Islam…. Dari pada maTi karena pakDe mokrasi, selayaknya qTa maTi karena ALLAH, PASTINYA qTa diminTai pertanggung jawaban selama qTa hidup di dunia ini. qTa harus bangun,,, qTa harus lantang suarakan Islam, bahwa :
ISLAM IS THE BEST AND ISLAM sebagai PROBLEM SOLVING
Thank your attention, Wassalamualaikum



By: hanny_psi/ smt VI 085731163150

pesta demokrasi

Akhir- akhir ini dadaku sering terasa sesak, kepalaku pening, badanku menggigil. Aku khawatir ada gejala penyakit yang berbahaya, akhirnya aku putuskan untuk periksa ke klinik kampus. Eh…malah Bu dokter bilang aku sehat-sehat aja. So, aku keluar dari klinik dengan tangan hampa dan penuh tanya. Tapi aku ga’ boleh nyerah, aku akan berusaha untuk cari penyebab penyakitku ini sekaligus obatnya. Aku akan belajar jadi dokter untuk diriku sendiri sebelum aku jadi dokter untuk orang-orang di sekitarku. Yuk…bantu aku cari penyebab penyakitku.

Dari klinik, aku langsung menuju fakultas dakwah A. Sambil nunggu jam kuliah masuk, aku baca koran jawa pos yang di pasang di mading, belum semua terbaca tiba-tiba penyakitku kambuh lagi. Begitu juga waktu aku menuju fak. Dakwah B dan melihat koran surya halaman muka. Hal yang sama, ketika aku mendengar berita BBC, mendengar pembicaraan masyarakat, melihat TVOne, rasanya pengen pingsan. Akhirnya aku tersadar, ternyata

PESTA DEMOKRASI TELAH TIBA

Atmosfer kampanye kian panas, televisi, radio, media cetak makin banyak menayangkan iklan politik, berbagai janji diumbar. Ada lagi yang membuatku tercengang waktu baca tabloit kesayanganku (Media Umat edisi 8), berikut cuplikannya:

.....”Demokrasi memang mahal,” kata Rizal Mallarangeng. Hanya mereka yang memiliki modal cukup yang bisa berperan. Sementara yang uangnya cekak harus minggir dari percaturan. Namanya saja pesta demokrasi. Pesta butuh uang. Apalagi untuk duduk di singgasana Senayan. Wajar bila seorang caleg DPR RI harus menyediakan dana minimal Rp 400 juta. Bisa dihitung barapa total pengeluaran caleg yang tercatat saat ini sebanyak 11.868 orang untuk DPR. Nilainya sekitar Rp 4,727 trilyun. Jangan kaget dulu, itu belum termasuk pengeluaran caleg dari 471 DPRD kabupaten/kota dan 33 DPRD provinsi. Yang jumlah calegnya mencapai puluhan ribu orang. Anda bisa memperkirakan sendiri besarnya. Ada yang memperkirakan jumlahnya bisa sampai 50 trilyun. Wow ...ini baru untuk caleg, belum untuk pemilihan presiden/wakil presiden berbeda lagi.....

Truss... dari mana dana sebesar itu??? Masihkah qita memimpikan kesejahteraan di bawah sistem demokrasi??? Temukan jawaban selengkapnya hanya....di Media Umat edisi 8.(ya... itung-itung sambil promosi, tapi suer beli MU ga’ bakal nyesel)
Anehnya, waktu baca media inilah penyakitku ga’ kambuh cz di sini ada obat penawarnya. Ternyata, aku terserang penyakit trauma jadi korban sistem demokrasi. He..he..he..


By: Maf’ula/ Manajemen Dakwah/ 085655200860/ mustaniir_mf_1953@yahoo.co.id